Rabu, 22 September 2010

Membagun Peradaban Melalui Tradisi dan Pembiasaan

Etika dan sopan-santun adalah dasar kita menghormati orang lain dan hormat kepada orang lain merupakan apresiasi kita atas perilaku atau hasil karya yang mereka tunjukkan. Dengan kata lain kita akan mampu menghormati dan mengapresiasi hasil karya (prestasi) orang lain kalau norma, nilai-nilai, sikap dan perilaku terpuji sedari dini telah tertanam dalam sanubari ini.

Permasalahan

Dari survey dapat diketahui bahwa masih rendah minat orang tua mengajari dan memberi pemahaman kepada anaknya tentang pentingnya berperilaku sesuai dengan budayanya sendiri. Selain itu peran sekolah sebagai rumah ke dua dari anak, bagaimana mampu menjadi model tentang perilaku terpuji dalam pergaulan sosial sehari-hari melalui layanan informasi dan kegiatan pembiasaan-pembiasaan. Dan tak kalah pentingnya adalah peranan lingkungan disekitar anak, mampukah lingkungan menciptakn kondisi yang memungkinkah siswa (anak) tumbuh kembang secara sehat baik secara fisik maupun psikologis.

Apabila hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka, selain perilaku anak yang kurang terpuji, kita akan menemukan generasi yang tidak saling menghargai (apalagi saling menghormati) dan cenderung berapresiasi negative terhadap hasil karya orang lain.

Pembahasan Masalah

Dari permasalah diatas, ada tiga hal yang merupakan faktor utama yang bisa membentuk perilaku, budi pekerti luhur atau pembiasaan-pembiasaan positif terhadap diri remaja:
Faktor Keluarga
Faktor Lingkungan Sekolah
Faktor Lingkungan Masyarakat.

Faktor Keluarga

Diatas telah disinggung sedikit tentang pentingnya peranan orang tua dalam membentuk karakter dan kepribadian anak yang salah satunya dengan mengajarkan cara berbahasa (Jawa halus) dalam pergaulan  sehari-hari kepada anak. Tentunya masih banyak contoh lain yang bisa kita kembangkan, yaitu berupa pembiasaan-pembiasaan lainnya sesuai lingkungan/budaya masing-masing. Hal lain adalah biasakan menghargai hasil karya anak walau bagaimana pun bentuknya. Sekali-kali jangan gunakan  cemoohan, cacian atau kata-kata lain yang meremehkan atau bahkan menghina hasil karya anak. Juga jangan suka membandingkan hasil karya anak anda dengan anak lain atau temannya. Kalau hal ini sampai  terjadi anak bisa menjadi down dan bisa menarik diri (withdrawal). Biasanya kalau anak jarang merasa dihargai usahanya, dewasanya kelak juga sulit menghargai dan mengapresiasi hasil karya orang lain.

Faktor Lingkungan Sekolah

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak. Lebih dari 6 jam sehari anak berada di lingkungan sekolah. Selain berinteraksi dengan temannya, siswa juga berinteraksi dengan guru dan staff sekolah lainnya. Dalam hal ini anak akan sangat memperhatikan perilaku anak lainnya, guru dan staff sekolah untuk dijadikan model. Ada beberapa contoh pembiasaan-pembiasaan yang harus dilakukan disekolah, yakni:
Memberikan salam

Biasakan memberi salam setiap bertemu siapapun, salam ini bisa berbentuk verbal dan non verbal. Misalnya, tersenyum, mengangguk, melambaikan tangan dan dalam bentuk verbal misalnya ucapan Assalamu’alaikum, selamat pagi, selamat sore dan sejenisnya. Ucapan salam, selain dapat mengakrabkan suasana, salam juga merupakan perintah agama, dalam salam ada usaha saling mendoakan.
Mengetuk Pintu

Saat Guru mengajar, tiba-tiba ada guru lain yang nyelonong masuk, apa reksi kita? Sungguh sikap dan perilaku ini jangan sampai ada pada guru. Mengetuk pintu adalah langkah bijak, apakah kita diijinkan masuk ataukah akan mengganggu aktivitas KBM.
Awali setiap Aktifitas dengan Do’a

Kita semua paham, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang religius, dengan berdoa tentunya akan menambah spirit kita dalam beraktifitas.
Empati

Berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Ehm… bisa nggak ini dilakukan oleh guru. Ada gurauan yang disampaikan oleh guru, suatu hari ada siswanya yang mengeluh mempunyai masalah. Kemudian guru tersebut menjawab, “apa, punya masalah… lha bapak sendiri sekarang lagi banyak masalah…. “ .
Hargai hasil karya siswa

Sejelek apapun hasil karya siswa atau berapa pun nilai yang diperoleh siswa atas hasil ulangannya, hargai itu sebagai prestasi. Bagi siswa yang memperoleh hasil memuaskan berikan tanggungjawab yang lebih menantang, sedangkan yang belum tuntas, semangati dia bahwa sebenarnya dia mampu
Beri Hadiah

Memberi hadiah adalah bentuk penghargaan lainnya terhadap prestasi siswa, tetapi pemberian hadiah ini apabila tidak selektif, hadiah lama-lama tidak akan menjadi sesuatu yang membanggakan.
Beri kesempatan siswa memberikan pendapat

Mengkritik hasil karya orang lain itu hal biasa, tetapi siapkah guru dikritik atau diberi masukan oleh siswanya? Disinilah tempatnya siswa belajar menerima kekurangan dan kelebihannya dari sikap guru yang dikritik.
Bekerja Kelompok

Selalu sempatkan siswa untuk bekerja dan belajar berkelompok. Dengan belajar berkelompok siswa akan terbiasa mendengar dan berbagi pendapat dengan temannya.

Faktor Lingkungan Masyarakat

Masyarakat yang kondunsif, sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan mental anak. Anak akan banyak belajar dari model-model yang dilihatnya dan dalam interaksinya dengan masyarakat di sekelilingnya.

Kesimpulan

Perkembangan dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh pergaulannya baik di keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Apabila siswa mendapatkan perlakuan yang menyenangkan, merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk aktualisasi diri, maka dikehidupannya selanjutnya, anak juga akan mampu menghargai dan mengapresiasi atas hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain.

referensi:

0 komentar:

Posting Komentar