Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Biar Loper Koran yang Penting Jadi Doktor

Siapa bilang loper koran tidak bisa meraih gelar doktor? Dr Basuki Agus Suparno(39) telah membuktikan itu. Menempuh pendidikan tinggi tidak melulu bergantung pada faktor finansial. Seseorang dengan kehidupan ekonomi serba kekurangan pun nyatanya mampu menjalani studi hingga jenjang S-3, asalkan mau berjuang untuk mengatasi kondisi serba kekurangan tersebut Hal itu dibuktikan oleh Basuki Agus Suparno, dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Yogyakarta.

Beberapa waktu lalu, Basuki telah diwisuda sebagai doktor bidang komunikasi lulusan Universitas Indonesia. Gelar itu sekaligus mengokohkan dirinya sebagai doktor ke-42 bidang komunikasi di Indonesia. Semangat dan keinginan untuk majulah yang mengantarkannya sukses secara akademis.

Apa yang sudah diraih ayah dua anak ini tidak semudah seperti orang lain yang berkecukupan. Dari sekolah tingkat sekolah dasar (SD) sampai berhasil meraih gelar strata satu (S1) di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Solo, kehidupan Basuki selalu penuh dengan perjuangan. Banyak pekerjaan sampingan yang ditekuni mulai dari loper koran, jual kantong plastik, semir sepatu hingga berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Semuanya ini telah membawanya dapat menyelesaikan bangku kuliah di UNS.

Semua pergulatan melawan nasib tersebut, kata Basuki, tidak lain untuk membantu perekonomian keluarga serta membiayai sekolahnya selepas ayahandanya meninggal dunia. Selepas SMA, pada tahun 1991 anak ke-8 dari 9 bersaudara itu berhasil diterima di jurusan komunikasi fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo.

Meski telah berstatus mahasiswa Basuki tidak malu nyambi sebagai loper koran. Keuntungan dari berjualan koran bisa mencapai 300 sampai 6.000 ribu rupiah per hari. Keuntungan itulah yang dipakai sebagai modal untuk membiayai kuliahnya. Hingga akhirnya setelah lulus kuliah Basuki berhasil menjadi dosen di UPN. Semangat Basuki untuk terus meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak pernah pudar. Melalui beasiswa yang diberikan kampusnya, dia berhasil menempuh jenjang S2 dan S3. Setelah berhasil merampungkan pendidikan S3-nya. Basuki mengaku begitu lega. Terlebih jika dia mengenang kembali perjalanan hidupnya pada masa lalu yang serba kekurangan.

Awal Kisah Perjuangan
Kisah pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 6 Mei 1971 itu bermula saat sang ayah almarhum Suwoyo Wiro Sumitro tidak lagi menjadi pegawai di Pabrik Gula Mojo. Pada tahun 1977, bersama ibunya Sugianti, keluarga ini pindah ke Jakarta pada 1978 dan mengontrak rumah di kawasan Kampung Makasar, Jakarta Timur. Sang ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan opak (keripik singkong).

Menurutnya, hasil yang diperoleh kedua orang tuanya sebagai buruh bangunan dan berjualan keripik singkong, ternyata tidak mampu mencukupi biaya kehidupan mereka serta biaya pendidikan anak-anaknya. Sambil sekolah, Basuki kecil terpaksa jual koran dan kantong plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Pekerjaan ditekuninya sampai kelas satu SMP Negeri 50, Jakarta Timur.

Saat itulah semua aktivitas Basuki terhenti. Pasalnya, sang ayah meninggal dunia. Keluarga Basuki pun akhirnya kembali ke Sragen. Kepergian ayahnya untuk selamanya, tidak membuat Basuki patah semangat apalagi frustrasi. Justru sebaliknya, pendidikan SMP diselesaikan dengan baik dan dia pun diterima di SMA Negeri 1 Sragen. Sebagai SMA favorit, pria yang suka baca buku-buku politik ini mampu bersaing dengan teman-temannya, meski terbatas buku-buku yang dia miliki.

Gagal Masuk UGM
Seiring semakin banyaknya pelanggan koran dari Basuki, statusnya pun meningkat dari penjualan eceran menjadi loper yang mampu mendapat pelanggan tetap mencapai ratusan orang. Seusai lulus SMA, Basuki mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, dia gagal diterima.
Kemudian, tahun berikutnya pemuda yang pantang menyerah ini akhirnya bisa masuk ke UNS Surakarta. Dia memilih dua fakultas yakni Kedokteran dan Fakultas ISIP jurusan Komunikasi. Pada 1991 ia memulai  kuliah di jurusan  Komunikasi FISIP UNSd engan biaya dari hasil jualan koran. Cukup banyak koran harian yang dijualnya baik terbitan dari Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. “Selain koran terbitan pagi yang saya edarkan,juga ada terbitan sore ya seperti Sinar Harapan dan Wawasan,” ujarnya.

Setelah meraih gelar sarjana dari UNS, menurut Basuki tidak ada niatnya untuk melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS). Ia pun terus menggeluti usaha dagang. Sambil tetap menjadi loper koran, Basuki memulai usaha baru menjadi penyuplai gula pasir dari rumah ke rumah di Kota Sragen. Awalnya bermodalkan 100 kilogram, akhirnya bisa memiliki omzet sampai tiga ton per bulan. Profesi ini dijalaninya sampai akhir 1987.

Pada saat itu, lanjutnya, seorang teman kuliahnya mengajaknya mendaftar sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta. Setelah melalui tahap tes, pria beristrikan Erni Indriastati ini, awalnya diangkat sebagai asisten dosen dengan gaji sebesar Rp 300.000 per bulan. Tidak lama kemudian, begitu surat keputusan (SK) pengangkatannya turun, Basuki menjadi dosen tetap pada mata kuliah Statistik Sosial dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Berkat perjuangan kerasnya, UPN Veteran menyekolahkannya ke jenjang strata dua (S2) di UNS Surakarta dan pada 2008 dia mendapat beasiswa untuk meraih gelar S3 di UI Depok. “Saya tidak menyangka begitu baiknya pemimpin UPN memberikan beasiswa sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar doktor,” tambahnya.

SOICHIRO HONDA, Sang Tokoh Honda yang pantang menyerah

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, anda melihat kendaraan yang bermerk Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk ini mendominasi merk kendaraan, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.  Namun, pernahkah anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda adalah Soichiro Honda, seorang warga Jepang yang banyak diliputi kegagalan sewaktu merintis perusahaan bermotor. Ia tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia juga bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Sewaktu sekolah nilai jelek. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda, bukan di sekolahan,” tuturnya.

Tokoh  pekerja keras yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi… tanpa mengenal putus asa.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ”warisan” dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Tokyo, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu.

Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, sehingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa.

 Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, dan ingin membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar.

Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya akhirnya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Keadaan politik Negara Jepang kala itu tidak mendukung bisnisnya, karena Jepang sedang mengalami peperangan. Ia pun kesulitan untuk mencari dana pinjaman. Hingga akhirnya kehabisan akal dalam mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik.

Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota.

Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Selain mencintai dunia permesinan, Sochiro sendiri tergila-gila dalam dunia balap. Itu pula yang kemudian menjadi kunci suksesnya. Dari arena balap, dia mendapatkan masukan berharga bagi pengembangan produknya. Bahkan ketika baru memasuki dunia pembuatan mobil pada tahun 1962, hanya 2 tahun sesudahnya, ia langsung merealisasikan idamannya, terjun di arena Formula 1. Sedangkan di kancah produksi massal, Honda menelurkan produk yang sangat disukai pasar, hemat bahan bakar dan berkecepatan tinggi, yang menjadi trade merk Honda hingga sekarang. Pengagum Napoleon Bonaparte ini dikenal sebagai antinepotisme. Ia tidak suka menempatkan keluarganya di posisi penting begitu saja. Ketika ia pensiun pada 1973, ia menyerahkan pimpinannya pada Kiyoshi Kawashima.

Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang “Raja” jalanan. (N.Hart)