Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Peran Humas dalam Penyampaian Informasi

Sejauh ini masih banyaknya beranggapan bahwa fungsi Humas hanya sebagai pembuat press release, keprotokolan, dokumentasi, berhubungan dengan media. Padahal fungsi Humas, khususnya di pemerintahan dan instansi lainnya, adalah bagaikan sebuah lampu depan pada instansi tersebut.

Maka dari itu fungsi Humas tak hanya jadi pemadalam kebakaran, yang bisa memadamkan kobaran api emosi, serta menjadi kameramen atau fotografer saja. Akan tetapi seorang Humas itu harus cerdas dan berjiwa entrepreneurship. Karena seorang Humas diperlukan kemampuan untuk mengkaji bagaimana rumusan terbaik untuk mengkomunikasikan sebuah program pelayanan publik kepada masyarakat. Karena humas adalah suatu lembaga yang sangat strategis untuk menjembatani hubungan antar instansi maupun masyarakat dan elemen-elemen kelembagaan masyarakat lainnya.

Tidak salah kalau Humas itu merupakan corong atau penyambung lidah, serta jadi mediasi dua arah yang bisa dimanfaatkan untuk menentukan arah kebijakan strategis organisasi yang bisa dikomunikasikan ke seluruh komunitas eksternal atau internal.

Humas memang menjadi jendela dan garda paling depan bagi sebuah instansi atau organisasi lainnya. Maka dari itu kecerdasan dan kepiawaiannya untuk memetakan demografis customer atau masyarakat adalah keharusan.
Keberadaan Humas disebuah institusi acapkali diartikan sebagai ‘pemadam kebakaran’ atau menyelesaikan semua masalah. Namun, Humas seharusnya terlibat dalam permasalahan sejak dini. Artinya Humas itu harus terlibat sejak proses dari perencanaan.

Diakui atau tidak, Humas memegang peranan sangat central dalam institusi. Dimana pencitraan sebuah institusi akan sangat bergantung kepada kinerja Humas di institusi yang bersangkutan.

Sejatinya, Humas secara struktur melekat pada sebuah jabatan. Namun secara kelembagaan, sesungguhnya siapapun di institusi dimanapun yang berkenaan menjadi humas, harus bisa menempatkan diri dan membangun image institusi yang ditempatinya.

Jadi tidak bisa hanya Humas saja yang membangun pencitraan itu. Melainkan seluruh pegawai juga harus mampu menjadi Humas tentunya dalam kadar yang berbeda-beda.

Sebagai praktisi Humas, seseorang itu harus memiliki persyaratan, yaitu harus menguasai tugas dan fungsinya sebagai Humas. Semakin besar pemahaman seseorang terhadap fungsi dan tugasnya, maka semakin besar pula beban yang dipikul oleh seorang Humas tersebut. Selain itu, Humas juga harus bisa membangun komunikasi kedalam institusi maupun keluar institusi yang berkenaan. Khusus untuk institusi pemerintah sikap dan etitude harus menjadi contoh bagi Humas yang lainnya

Ujung Tombak
Keberadaan Humas merupakan ujung tombak keberhasilan pemerintahan menjalankan tugas-tugas pembangunan. Oleh sebab itu Humas haruslah diisi oleh individu-individu yang multitalenta. Di masa perkembangan informasi teknologi yang kian pesat, seorang Humas juga dituntut untuk dapat memainkan perannya sebagai PR (public relation) dan berjiwa entrepreneurship, serta mampu mengelola kehumasan secara aspek keilmuan, serta mampu pula menjadi juru bicara atau negosiator yang mumpuni.

Beberapa pakar mengatakan bahwa Humas itu agent of change. Dia membawa perubahan yang nyata di sebuah institusi, sebagai pembaharu informasi dan bertindak menjadi leader opinion. Makanya Humas perlu memiliki jiwa yang terbuka. Inilah sebabnya dia harus seorang yang multitalenta. Intinya, Humas wajib memiliki jiwa entrepreneurship. Humas semestinya mampu meringankan beban dari institusi yang menaunginya, tidak lagi sekedar menjadi corong tapi juga harus bisa bertindak sebagai PR.

Posisi Humas tidak jauh beda dengan seorang CEO atau Eksekutif perusahaan maupun pejabat di pemerintahan. Inilah yang hendaknya dipahami betul oleh seorang Humas. (N.Hart)

Bank Mini SMK Negeri 1 Sragen Dibesarkan dari Seribu Rupiah

Uang seribu rupiah merupakan nilai yang tidak seberapa. Namun bila di kumpulkan dan dikelola secara bersama-sama akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Contohnya di SMK Negeri 1 Sragen. Disini sejak awal tahun delapan puluhan silam telah didirikan sebuah bank mini.

Saat memasuki ruangan Bank Mini yang terdapat dilingkungan SMK Negeri 1 Sragen seolah olah berada dilingkungan kantor Bank yang sesungguhnya. Disana seseorang dapat menyimpan ataupun mengambil uang, bahkan meminjam uang layaknya sebuah bank yang sesungguhnya. Disebut bank mini karena bank ini memang berukuran mini dan dikelola oleh para siswa di SMKN 1 Sragen ini sendiri.

Suwarto,BA, Koordinator bank mini SMK Negeri 1 Sragen, saat ditemui menjelaskan, bank mini yang didirikan awal tahun delapan puluhan silam ini digunakan sebagai tempat praktek siswa SMK Negeri 1 Jurusan Akuntansi. Setiap harinya, empat orang siswa dari empat kelas di jurusan Akuntansi, secara bergantian bertugas di bank mini ini.

Modal usaha  bank mini berasal dari para siswa dan bantuan modal pihak sekolah. Para siswa yang telah tercatat sebagai nasabah di bank mini ini diperbolehkan mengajukan pinjaman. Namun pinjaman di atas Rp. 500.000 harus mengunakan jaminan pernyataan dari orang tua siswa. Suku bunga yang dikenakan sebesar 2 % per bulan untuk jenis pinjaman dan 0,75 % untuk jenis tabungan.

Uniknya, tutup buku dan buka bukunya tidak diakhir dan di awal tahun. Namun pada akhir Juni dan pada awal Juli. Hal ini disesuaikan dengan awal tahun ajaran baru. Siswa baru yang diterima di sekolah ini diwajibkan untuk menabung di bank mini ini. Seribu rupiah perbulan yang wajib dibayarkan di awal tahun ajaran baru dirasa tidak akan memberatkan para siswa.

Dari uang yang tidak seberapa tersebut, hingga saat ini jumlah modal yang dimiliki oleh bank mini ini sebesar Rp. 29 juta. Sementara uang yang beredar di debitur sebanyak Rp. 27 juta. Suwarto berharap, dengan dilibatkannya siswa dalam pengelolaan bank mini, diharapkan dapat memberikan bekal motivasi maupun keahlian siawa dalam pengelolaan uang dan ketrampilan perbankkan. “Setelah lulus kami harapkan siswa mempunyai bekal yang cukup mengenai cara yang baik dalam mengelola keuangan dan sedikit ilmu perbankan” Jelas Suwarto.

Pilah – Pilih Jajanan Anak

Tidak semua jajanan yang dikudap si kecil aman dan sehat. Banyak jajanan yang ternyata tidak baik untuk kesehatan, karena “disisipi” bahan tambahan yang berbahaya. Bagaimana mensiasati agar anak anak hanya mengkonsumsi makan-makanan yang sehat?

Biasakan sarapan

Biasakan anak sarapan di rumah sebelum berangkat sekolah. Usahakan untuk selalu membekalinya dengan makanan buatan sendiri yang lezat, bergizi dan bervariasi. Biasakan makan bersama anak di meja makan dan masak bersama mereka di dapur. Ini menciptakan suasana akrab dan menyenangkan. Anak dapat mengenal bahan dan belajar mengolah makanan yang sehat.

Sarapan pagi sebelum berangkat sekolah ternyata amat penting karena ikut menentukan kualitas prestasi seorang anak. Di lain pihak akibat terbatasnya waktu membuat anak dan Anda tak sempat lagi untuk sarapan pagi. Padahal mengutip Journal of American Dietetic Association, mengabaikan sarapan akan membuat anak berperilaku jajan yang tak sehat apalagi rata-rata jajanan di sekolah kurang bergizi. Dalam jangka waktu pendek maupun panjang apabila anak-anak membiasakan diri jajan di sekolah dan melupakan sarapan pagi akan menimbulkan masalah kesehatan tubuhnya.

 Pilih tempat bersih

Kadang, jajan merupakan kegembiraan tersendiri bagi anak. Terlalu naif jika Anda misalnya, melarang anak Anda untuk jajan. Hanya saja, Anda perlu memberi pengertian. Beri rambu-rambu pada mereka. Anda bisa mengatakan, boleh jajan asal di tempat-tempat atau lingkungan yang bersih. Misalnya jauh dari tempat sampah, got, atau kotoran seperti debu, atau asap kendaraan bermotor. Ajarkan mereka untuk memilih jajanan yang terlindung dari debu. Makanan yang dibeli pun sebaiknya dalam keadaan tertutup, bersih dan tidak kotor atau bekas dipegang-pegang orang. Jika anak sudah bisa memahami, memang relatif lebih mudah mengajarinya. Tapi jika anak Anda masih di bawah lima tahun, memang agak repot untuk memberi pemahaman seperti itu.

 Waspadai pemanis-warna

Ajarkan anak untuk menghindari jajanan yang terlalu manis dan berwarna mencorong seperti es sirup, kue-kue, atau makanan ringan dalam kemasan yang warnanya terang. Karena kemungkinan besar makanan-makanan itu mengandung bahan pemanis buatan atau pewarna yang bukan untuk bahan makanan. Itu sangat berbahaya bagi anak. Apalagi jika mengandung pengawet buatan, sangat tidak menguntungkan bagi kesehatan anak. Beritahu anak Anda, makanan yang enak belum tentu aman bagi mereka. Kalau perlu Anda secara tegas dan keras melarang mereka untuk membeli jajanan itu. Untuk itu Anda perlu mengawasi secara ketat.

 Jelaskan bahaya

Tanpa penjelasan yang jelas dan mudah dimengerti, Anda akan kesulitan untuk melarang anak Anda mengkonsumsi jajanan-jajanan berbahaya. Ada baiknya Anda menyampaikan bahaya-bahaya dari makanan-makanan yang mengandung pewarna, pemanis, dan pengawet buatan yang bukan untuk makanan. Misalnya saja, makanan X akan menyebabkan penyakit Y. Dengan mengemukakan bahaya dari makanan tersebut, kemungkinan besar anak takut, sehingga jera dan tak berani lagi membeli jajanan itu. Namun Anda harus menyampaikan peringatan-peringatan itu terus menerus. Namun untuk mengungkapkan bahaya atau efek samping dari makanan yang tak sehat tersebut, Anda memang harus belajar dan tahu jenis-jenis makanan yang ada. Tanpa pemahaman itu, Anda akan kesulitan menyampaikan informasi yang tepat dan benar pada anak.

 Awasi

Jika anak Anda sudah bisa diberi pemahaman, tugas Anda tak begitu sulit. Anda tinggal memberikan rambu-rambu, dan menekan anak untuk mematuhi nasihat Anda. Tapi jika anak Anda masih di bawah umur, tentu nasihat-nasihat yang Anda berikan takkan mempan. Tentu saja mereka belum mengerti. Karena itulah Anda yang harus memilihkan jajanan untuk mereka. Dengan kata lain, Anda harus mendampingi anak setiap kali jajan. Anda pun harus jeli memilih makanan yang benar-benar sehat. Sekali lagi, hindarilah makanan yang berwarna terang dan manis-manis. Karena sangat mungkin itu mengandung bahan yang berbahaya. Apalagi jika harganya murah. Anda pun harus tegas pada anak Anda. Jangan sampai Anda kalah oleh senjata andalan mereka; tangis!

Bawakan bekal

Cara ini bisa Anda pakai. Anda tak perlu memberikan uang saku, namun memberi bekal makanan. Beri dia makanan-makanan yang sehat untuk dikonsumsi. Tak harus makanan buatan sendiri, tapi bisa juga makanan-makanan yang di jual di pasaran. Tapi Anda harus memilih makanan yang benar-benar aman bagi mereka. Karena jajanan yang Anda berikan itu sekaligus contoh bagi mereka. Artinya jika Anda tak memberi bekal, mereka sudah tahu jenis jajanan yang boleh mereka beli. Memang pemberian bekal ini hanya sementara saja. Karena tujuannya untuk membuat anak mengerti jajanan yang sehat dan boleh dibeli. Jika anak sudah paham, Anda boleh mengganti bekal dengan uang saku.

Beri contoh

Anda juga harus memberi contoh untuk selalu memilih jajanan yang sehat, baik saat pergi bersama anak maupun saat membawa oleh-oleh sepulang kerja. Sia-sia Anda mengajarkan anak memilih jajanan yang sehat jika Anda tak memberi contoh yang baik. Kalau perlu Anda kurangi frekuensi jajan anak dalam sehari atau seminggu jika memungkinkan. Mengajari anak untuk tak jajan tentu lebih baik, dibanding Anda selalu was-was mengkhawatirkan jajanan yang dikonsumsi anak Anda. Lebih baik lagi, jika Anda bisa mengajari anak untuk menabung uang sisa jajannya dalam celengan. Ya menabung tentu lebih baik. (Ryan)

Rabu, 22 September 2010

Pendampingan Orang Tua Sangat Diperlukan

Perkembangan teknologi ternyata juga harus diimbangi para orang tua untuk lebih ketat dalam melakukan pendampingan bagi anak mereka, untuk memanfaatkannya secara lebih sehat.

Dari sebuah riset teranyar yang dilakukan oleh lembaga riset Pollab, para orang tua ternyata harus mengawasi lebih dekat aktivitas online buah hati mereka. Studi itu mengungkapkan bahwa 62 persen (sekitar dua pertiga) dari 1.020 orang tua yang menjadi responden, mengatakan bahwa mereka tak begitu tahu kontak-kontak anak mereka di dunia maya.

Sementara 50 persen dari orang tua juga mengaku tak bisa menyebutkan siapa saja orang-orang yang diajak chatting oleh anak-anak mereka. Riset lain yang dilakukan oleh Virtual Parenting Report, ternyata juga menemukan ketidakcocokan antara standar keamanan di dunia nyata yang diajarkan oleh para orang tua, dengan toleransi yang orang tua terapkan kepada anak-anak mereka di dunia maya.

Bila dalam dunia nyata, anak-anak selalu diwanti-wanti untuk tidak berbicara dengan orang asing, sementara di dunia maya, hanya 33 persen orang tua yang mengaku selalu waspada dengan orang-orang yang berkawan dengan anak mereka di internet. Artinya, semua orang asing dari berbagai usia bisa berinteraksi dengan anak-anak mereka tanpa penghalang. Padahal biasanya orang-orang asing itu juga menyembunyikan identitas mereka.

Selain itu, 68 persen dari orang tua juga mengaku tak tahu apa saja yang didiskusikan oleh anak-anak mereka dengan teman-temannya lewat internet. Sementara 43 persen orang tua mengatakan mereka hanya sedikit tahu, atau bahkan tidak tahu sama sekali foto dan identitas pribadi anak mereka yang dipublikasikan oleh anak mereka.

Seperti dilansir dari situs FemaleFirst, akses anak-anak terhadap internet bisa memicu beberapa masalah tambahan bagi anak-anak. Pasalnya lebih dari sepertiga (35 persen) anak-anak mengakses internet dari komputer dan laptop pribadi mereka. Selebihnya, 12 persen dari anak-anak mengakses internet dari konsol game mereka, dan 4 persen lagi melalui ponsel pribadi.

Bahkan banyak anak yang masih berusia sembilan tahun, sudah bisa mendapat akses internet tanpa perlu otorisasi dari orang tua mereka. Padahal, anak-anak seusia tersebut sangat rawan menjadi target para ‘predator online’, bila tak mendapat bimbingan dari orang tua.

Oleh karenanya, para orang tua diharapkan tak melepas anak-anak mereka begitu saja dan selalu mendampingi mereka untuk memberi pengarahan terbaik dalam beraktivitas secara online.(Ryan)

Meniti Langkah Lewat Kopontren Menuju Santri Mandiri

Memasuki dukuh Bedono desa Pengkol kecamatan Sukodono, sekilas tak berbeda jauh dengan dukuh-dukuh lainnya. Suasana pedesaan tampak kental terlihat di desa ini. Di kanan kiri jalan terlihat hamparan luas sawah dengan batang-batang padi yang sedang menghijau. Pepohonan sengon banyak tumbuh berjajar di kanan kiri disepanjang jalan masuk ke desa yang seakan ingin memayungi setiap insan yang lewat dari teriknya sang matahari.

Setelah memasuki pintu gerbang dukuh, di kanan kiri jalan terlihat beberapa orang santriwati yang sedang berjalan bergerombol sambil bercanda ria. Sebuah senyuman yang ramah tersungging dari bibirnya yang mungil.  Tak jauh dari situ tampak sebuah bangunan yang cukup besar. Didepan bangunan tersebut  terlihat papan nama pondok pesantren Al Hikmah.

Sekilas tak nampak bangunan ini merupakan sebuah pondok pesanten melainkan lebih terlihat seperti bangunan sekolahan. Sebagian bangunannya terlihat belum diplester dengan semen. Meski begitu bangunan ini tetap mengesankan sebuah kemegahan, karena berdiri di tengah-tengah suatu desa yang jarang berdiri bangunan sebesar ini.

Saat tertegun mengamati lokasi pesantren, tak lama seorang bapak muda telah muncul. Bapak muda tersebut ternyata salah seorang penanggung jawab aktivitas koperasi pesantren (Kopontren) beserta unit-unit usaha yang dikelolanya. Kopontren Arta Hikmah, begitu namanya koperasinya.

Kopontren Arta Hikmah merupakan salah satu dari 26 Kopontren yang ada di Kabupaten Sragen. Kopontren ini terbilang kopontren yang paling sehat dan paling besar azet dan omzetnya. Bapak muda yang biasa dipanggil Nur Muhammad oleh para santrinya itu  menjelaskan, Kopontren Arta Hikmah belum lama berdiri, baru sekitar 4 tahun silam, tepatnya tahun 2004. Perintis Kopontren Arta Hikmah ini tidak lain adalah (Alm) KH. Wahono dan Nur Muhammad. (Alm) KH. Wahono juga merupakan tokoh pendiri pondok pesantren Al – Hikmah. Beliau meninggal tahun 2006 silam. Setelah beliau wafat kepengurusan pesantren diserahkan kepada anaknya KH. Mazida Iqbal Wahono. Sementara pengelolaan koperasi di pegang oleh Nur Muhammad.

Aset dan omzet kopontren ini mulai berkembang cukup pesat sejak bekerja sama dengan Bantuan Layanan Umum (BLU) yang dikelola oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kab. Sragen, sekitar tahun 2006 lalu. Tahun pertama menjadi nasabah BLU, kopontren ini mendapat bantuan pinjaman bunga lunak sebesar 10 juta rupiah. Tahun ke dua, atau tahun 2007, kembali kopontren ini mendapatkan bantuan pinjaman sebesar 30 juta.

Gelontoran dana pinjaman lunak ini digunakan kopontren Arta Hikmah untuk menghidupkan unit-unit usahanya yakni unit usaha simpan pinjam, toko yang menjual kebutuhan para santri, jasa layanan fotocopy, usaha jahit menjahit dan usaha peternakan. Semua unit usaha ini dikelola oleh para santri sendiri.

Keberadaan kopontren ini telah membawa angin baru dalam rutinitas sehari-hari para santri. Sejak saat itu, kegiatan pesantren menjadi lebih hidup. Para santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pelajaran sekolah saja, namun juga diajarkan bagaimana bertahan hidup dengan pelatihan ketrampilan life skill menjahit, mengelola toko dan beternak.

Unit simpan pinjam yang dikelola koperasi ini juga sangat membantu para alumni pondok pesantren ini dalam mengembangkan dagangannya. Mayoritas para alumni berprofesi sebagai pedagang. Tercatat kurang lebih 150 orang alumni yang menjadi anggota aktif koperasi. Aktivitas simpan pinjam di unit ini berjalan baik. Peran serta dan andil para alumni di kopontren ini sangat besar manfaatnya untuk mengembangkan kopontren, jelas Nur Muhammad.

Pembentukan kopontren beserta unit-unit usahanya ini menurut Nur Muhammad didasari keinginan untuk mengembangkan fungsi pondok pesantren, yang semula hanya digunakan untuk menimba ilmu agama saja,  dikembangkan menjadi pusat pengembangan ekonomi rakyat.

Sejak berdiri hingga saat ini aset kopontren ini sedikit demi sedikit mengalami pertumbuhan. Saat ini menurut Nur Muhammad, aset kopontrenya telah mencapai lebih dari Rp. 300 juta. Sementara omzetnya telah mencapai lebih dari Rp.  400 juta. Jumlah anggota kopontrenya tercatat lebih dari 350 orang. Anggotanya tidak lain adalah para santri dan para alumninya.

Di dalam lingkungan pondok, santriwan dan satriwati banyak terlihat sedang melakukan berbagai aktivitas. Wajah wajah cerah nampak memancar dari setiap santri. Tak tergambar sedikitpun sebuah wajah yang muram. Didalam  ruangan pelatihan menjahit puluhan santriwati terlihat serius memainkan mesin-mesin jahit. Nur Muhammad menjelaskan selain sebagai sarana pelatihan bagi para santri, usaha jahit ini juga memberikan income bagi kopontren. Dari kegiatan jahit menjahit selain para santri selain memperoleh ketrampilan menjahit juga diajari bagaimana mengelola sebuah usaha garment.

Untuk pemasaran produk yang dihasilkan,  pihak pengelola bekerja sama dengan para alumni pesantren yang  tersebar di berbagai tempat. Semua kebutuhan jahit menjahit para santri dan alumni biasa dilayani disini. Ikatan bathin dan kerjasama dengan para alumni masih kental. Hampir setiap minggunya para alumni berkumpul disini untuk mengikuti pengajian rutin. Setelah pengajian rutin inilah berbagai program untuk meningkatkan koperasi di perbincangkan.

Dilingkungan pondok pesantren juga terdapat unit usaha pengembangbiakan   ternak kambing. Peternakannya memang masih terlihat sangat sederhana. Namun, menurutnya peternakan ini akan dikembangkan menjadi peternakan sapi. Sebuah kandang sapi juga sudah terlihat sedang disiapkan. Peternakan ini juga merupakan salah satu unit usaha yang dikelola oleh kopontren. Disebelah peternakan, terlihat sebuah tanah yang sedang disiapkan untuk sebuah empang ikan.

Selain ternak, pondok pesantren juga mengelola  unit usaha penjualan,  berupa sebuah  Toko kelontong yang terletak  di bagian depan pondok. Meski kecil toko ini terlihat menjual lengkap semua kebutuhan para santri. Nur Muhammad menjelaskan, semua santri biasanya membeli kebutuhan sehari-harinya di toko ini. Dari pada membeli kebutuhan sehari-hari di luar pondok, lebih baik membeli di toko ini, sehingga akan bisa membantu membesarkan koperasi, jelasnya.

Dilingkungan pondok juga telah tersedia laboratorium praktek komputer. Didalam laboratrorium nampak  terlihat, puluhan santri yang sedang mengoperasikan komputer yang cukup canggih. Untuk ukuran sebuah desa yang jauh dari pusat kota laboratorium komputer ini sudah sangat cangih sekali. Tak disangka di sebuah desa yang jauh dari pusat perkotaan ternyata telah memiliki laboratorium praktek komputer dengan fasilitas yang cukup lengkap dan canggih.

Sementara menurut Catur Jatmiko, SE, MM Kepala Bidang Pembinaan Koperasi Dinas Perinkop dan UKM Kab. Sragen, Pemkab Sragen sangat peduli dalam mendorong pertumbuhan kopontren sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI nomor 15 / Per / M.KUKM / VII / 2006 . Tujuan pemberdayaan kopontren, kata  Catur Jatmiko, tidak lain untuk meningkatkan ketrampilan teknis dan managemen usaha para santri sehingga setelah lepas dari pondok para santri diharapkan dapat hidup mandiri. Catur berharap, dua puluh lima kopontren lainnya yang tersebar di wilayah kabupaten Sragen diharapkan dapat mengikuti jejak kopontren Arta Hikmah. (N.Hart)

Membagun Peradaban Melalui Tradisi dan Pembiasaan

Etika dan sopan-santun adalah dasar kita menghormati orang lain dan hormat kepada orang lain merupakan apresiasi kita atas perilaku atau hasil karya yang mereka tunjukkan. Dengan kata lain kita akan mampu menghormati dan mengapresiasi hasil karya (prestasi) orang lain kalau norma, nilai-nilai, sikap dan perilaku terpuji sedari dini telah tertanam dalam sanubari ini.